• Home
  • About
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Daftar Isi
  • Contact Us

Kumpulan Tips Bisnis Mas J



Produksi atau Pemasaran Duluan.. ??

Bagi pebisnis Pemula, saya yakin hampir semua akan menghadapi masalah menentukan Prioritas waktu dan fokus. Prioritas waktu → serasa 24 jam sehari gak cukup untuk mengerjakan segudang PR dalam bisnisnya.

Sementara pengeluaran harian dan bulanan jalan terus. Tak lepas juga Prioritas fokus → dana terbatas, bisnis dikerjain sendiri, produksi atau pemasaran duluan?

Biasanya nih, kalo ex-profesional perusahaan gede, begitu buka bisnis, mikirnya manajemen duluan, ujung-ujungnya bangkrut, karena kehabisan 'darah'. Begitu juga sarjana lulusan manajemen, kalo beneran ikutin teori di kampus, 90% akan bangkrut juga..!! Why?

Wrote by Rezki Anugraha
Sumber : Diambil dari Google


Dari Generalis ke Spesialis

Jika Anda berada di suatu wilayah, yang cari apa saja sulit, maka jualah apa saja, bukalah toko kelontong. Sudah menjadi hukum alam, jika toko kelontong Anda laris, maka akan memicu 'tetangga' untuk membuka toko kelontong serupa.

Apa pilihan Anda? Membuka cabang, mengepung dengan puluhan cabang toko kelontong atau besarkan menjadi supermarket?
Tapi hukum dasar komoditas tetap berjalan. Bisnis yang gampang dibuka, apalagi (saat itu) untung besar, maka pesaing pun akan bertumbuhan. Jika branding tak kuat, harga pun banting-bantingan.

Pilihan lain adalah naik level, larilah ke hulu, "Biarkan mereka jadi raja, Anda jadi dewa”. Apapun supermarket, minimarket atau toko kelontongnya, Andalah distributornya. Sedaap..!
Bagaimana jika Anda adalah pendatang yang 'baru lahir' dan mendapati kompetisi sudah telanjur gila-gilaan? Larilah ke spesialis. Jualah 1 macam produk saja (dahulu), 'kunci' branding-nya.
Serupa dengan perjalanan Bisnis Kuliner..
Era Rumah Makan 'nano-nano', yang menjual apa saja sudah lewat, karena menjamur. Apalagi dipicu dengan pola cari (konsumen) di google:
"Kuliner Semarang” atau "Makanan Khas Semarang”,
akankah rumah makan 'generalis' atau 'spesialis', seperti Tahu Pong, Tahu Gimbal, Soto Kudus, Nasi Ayam, Bakmi Jowo, Lekker, Lunpia, Es Puter, Bandeng Presto, Wingko Babad, yang menang? ‪
Saat Anda memasuki restoran yang menjual apa saja, apakah ini yang biasa Anda tanyakan:
"Disini apa yang spesial atau khas?”. Sudah jelas kah?

Kata Kunci produk unggulan

Coba deh plesiran ke Semarang, apalagi di malam hari, maka akan memperjelas apa yang saya tuliskan. Sebisa mungkin, jadilah yang pertama mempopulerkan suatu produk.
Pertama mempopulerkan, bukan berarti yang pertama membuat/menjual
Cara gampangnya, cari suatu produk yang sudah eksis puluhan tahun hingga sekarang, tapi belum ada 'merek' yang terkenal. Itulah yang disebut Pasar Potensial, dalam buku Buka Langsung Laris. Banyak produk yang ngangenin, tapi mereka 'lalai' memberikan merek dagang (terdaftar) pada produknya, bukan nama jalan atau penjual yang tak terdaftar.

Dari jual apa saja, menjadi jual satu saja, atau populerkan satu saja. Setelah laris dan ramai, silakan tambahkan varian produk lain, tapi jangan mengubah merek dagang Anda dengan 'generalis' lagi.
Gado-Gado Boplo, tak hanya menjual gado-gado.

Sate Khas Senayan, juga ada nasi kuning, lontong cap go meh.
Bandeng Juwana, juga menjual oleh-oleh lainnya.
Meski demikian, menjual satu macam pun, cukup untuk 7 generasi. Terbukti..!!

Tak usah takut dengan para 'follower', justru mereka yang membantu memperluas pasar dan 'mengerek' popularitas merek Anda sebagi pionir.

Sudah Ngiler kah?
Wrote by Rezki Anugraha
Sumber : Diambil dari Google


Internet Marketer, Abis Itu Ngapain..?


Semua profesi, asalkan halal adalah bagus. Hanya saja, ada profesi yang disebut Profesi Transisi.
Salah satu profesi 'underground' yang banyak mewabah di Indonesia adalah Internet Marketer (IM). Jangan anggap remeh IM Indonesia. Penghasilan mereka sudah banyak yang mencapai ratusan juta, bahkan miliaran perbulan. Namun karena pergerakan mereka di luar negeri, maka nyaris tak tercium 'bau duitnya' di Indonesia. Terlebih lagi, mereka adalah pemasar 'affiliate' dan dropship, yang sebagian besar tak menggunakan nama pribadi untuk memasarkan.

Beberapa IM yang saya temui, masih berusia 19 hingga 30 tahun, penghasilannya mengalahkan direktur perusahaan multinasional atau BUMN. Penampilan tetap sederhana, mobil biasa saja, bahkan masih ada yang naik taksi dan motor. Mereka sudah di jalan yang benar, hanya kebingungan, selanjutnya apa?

Saran saya, analisa dulu potensi dirimu, kelebihan dan kekuranganmu. Dari situlah kamu bisa memaksimalkannya. Berikut adalah alternatif langkah selanjutnya untukmu, IMers Indonesia.
Dari 'S' ke 'I' atau ke 'B' ?

Masih ingat 4 kuadran Kiyosaki? IM adalah profesi Self Employee (S), penghasilannya tergolong Active Income, kerja dapat duit, gak kerja gak dapat duit. Untuk mengubah penghasilan seorang IM menjadi Passive Income, alias gak kerja tetap dapat duit, maka dia harus lompat ke Business-owner (B) atau Investor (I). Otomatisasi hanya bersifat sementara, jika tak di-leverage dengan organisasi dan sistem.




Kebanyakan IM, dari 'S' lompat ke 'S' lagi, seperti trainer, optimizer, atau tetap di dunia affiliate. Gak jadi masalah, tinggal mainkan saja di investasi, seperti:
+ Beli properti, sewakan.
+ Beli franchise yang auto pilot.
+ Patungan jadi angel investor.

Yang penting jangan jadi rentenir, hehe..
Seperti kawan dan mentor saya, Rully 'The Legend' Kustandar, dia lebih memilih tetap di 'S' dan berinvestasi di beberapa bidang, emas adalah primadonanya. Karena dia menyadari 'sepaket' kelebihan dan kekurangan dirinya, maka dia dapat memaksimalkan potensinya. Jangan berusaha menjadi orang lain, fokuslah pada kekuatanmu, itulah kuncinya.

Jalan lain lompat ke kuadran 'kanan' (passive income) adalah dengan membangun bisnismu. Seorang IM, sejatinya sudah berada di jalan yang benar. Mahir memasarkan adalah kunci utama dalam berbisnis. Apalagi jika database konsumen dan perilakunya sudah ditangan, tinggal analisa, bangun dan besarkan brand sendiri.

Misalnya saat ini profesimu adalah dropshipper atau affiliate suatu produk dan suatu saat ingin menjadi pengusaha, saran saya fokuslah ke satu target pasar.

Puaskanlah pelangganmu, bukan jualan Hit and Run. Kredibilitas adalah kunci membangun bisnis yang langgeng.

Setelah terbaca kontinuitas pembelian suatu produk, cobalah untuk berjualan dengan Merekmu sendiri. Tak perlu produksi sendiri, bahkan sebaiknya outsource ke produsen saja. Produk bisa jadi yang serupa atau pelengkap. Orang yang maniak koleksi sepatu, biasanya juga kolektor tas, itu namanya pelengkap.

Tetaplah berjualan merek orang lain sebagai penghasilan utama (sapi perah), sembari membangun merek bisnismu (bintang). Hingga suatu saat 'siap dipanen', maka fokuslah membesarkan merekmu saja.

Jika jualanmu bermacam-macam produk untuk target pasar yang sama, maka bangunlah nama tokomu (brand[dot]com). Seperti kawan saya,Arief Theofilus Setyadi, seorang veteran Internet Marketer yang berevolusi menjadi brand owner Jocelyns.co.id.


Wrote by Rezki Anugraha
Sumber : Diambil dari Google


Yang disebut TOKO ONLINE itu jika..

  • Bisa order online, bukan via chat, sms, telepon atau mendatangi rumah Anda.
  • Perhitungan ongkir otomatis, bukan pelanggan menunggu hitungan ongkir, baru bisa order.
  • Sistem payment otomatis, bukan ngecek transferan manual, apalagi merepotkan pelanggan untuk upload bukti transfer dan menunggu notifikasi penjual.
  • Menggunakan autoresponder, bukan manual respon memberitahukan pelanggan tentang posisi orderan.
  • Bisa memproses orderan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa membangunkan pengelola bisnisnya.
  • Ada live chat, yang memberikan rasa nyaman dan aman bagi pembeli.
  • Tersedia blog sebagai 'pintu belakang', menjual tanpa menjuali.


Toko Anda, beneran sudah online atau semi offline?


Belum selesai disitu..


Setelah buka Toko Online, yang lebih gak mudah adalah:
  • mendatangkan pengunjung,
  • trus klik tombol BELI,
  • trus bayar.


Nah, proses mendatangkan pembeli itu:
  • Memilih produk yang diperlukan atau diinginkan konsumen.
  • Mengetahui secara spesifik siapa mereka.
  • Memahami apa saja yang menarik mereka untuk datang?
  • Bagaimana caranya membuat mereka pengin banget beli?
  • Bagaimana agar kemanapun mereka pergi, terbayangi produk Anda.
  • Bagaimana agar pelanggan mau beli lagi, lagi dan lagi?


Bayangkan jika Anda memiliki data berikut:
  • Produk apa saja yang paling laris di e-commerce Indonesia?
  • Iklan seperti apa dan dimana yang murah tapi tokcer buat UKM?
  • Bagaimana meningkatkan penjualan dengan budget yang terbatas?
  • Apa saja faktor yang memperbesar konversi toko online? 

Nah bagaimana kalau sudah mendapatkan data tersebut maka baru lah toko anda bisa disebut dengan Toko Online
Wrote by Rezki Anugraha
Sumber : diambil dari Google

Coba jawab dengan jujur, jika orang melihat produk Anda sekilas, gak pakai mikir, apa komentar mereka? Adakah bedanya dengan merek lain?

Bisakah Anda menjawab dengan 1 atau 2 kata apa bedanya?
Misalnya di produk fashion:
Motif Bali
Renda
Merah
Jadul
Soft
Pastel
Kenapa pengusaha susah membuat cirikhas?
Karena:
Maunya banyak; aku mau begini, aku mau begitu, kayak doraemon.
Bosenan; gak tahan lihat yang serupa tiap hari.
Variasi; salah mengartikan variasi dengan pecah fokus.
Bingung mana yang mau dijadikan cirikhas.
Tukang nyontek; karena gak kreatif.
Atau apapun alasannya, orang yang gak membangun cirikhas, maka MEREKNYA GAK AKAN TERKENAL.

Brand yang kuat dibangun dari diferensiasi yang kuat. Kecuali Anda adalah pionir dalam suatu industri/kategori.
Maka dari itu dalam ilmu marketing:
VALUE = (1) DIFFERENTIATION + (2) BRAND
dan
PRICE = VALUE (expectation)
Harga adalah angka yang akan dibayar seseorang untuk mendapatkan ‘value’ yang dia harapkan.
Kalau diferensiasi dan merek (branding) gak kuat, maka orang tak mau membayar mahal dibanding produk serupa. Alhasil mereka bermain di VOLUME.
Pilih mana: VOLUME atau VALUE ?

DIFERENSIASI (differentiation)
Jika produk Anda tak dapat dibedakan dengan orang lain, maka tak bedanya merek Anda dengan komoditas seperti sembako.

MEREK (brand)
Merek yang terkenal membuat orang mau membayar lebih mahal. Menjadikan merek Anda terkenal, sebelum dipromosikan, harus memenuhi kriteria:
1. Pertama
2. Terbaik
3. Berbeda

Mungkin saja Anda bisa membuat burger yang lebih enak dari McD, tapi belum tentu (kemungkinan kecil) Anda akan membuat merek burger yang setenar McD. Kenapa? Karena mereka yang pertama mempopulerkannya. Sudah terlanjur menjadi Top of Mind.
Ingat burger, ingat McD.
Ingat ayam goreng, ingat KFC

Jika suatu merek sudah ‘dikunci’ di benak konsumen, maka sulit untuk tergantikan, kecuali diferensiasinya sangat kuat, ditambah promo yang hebat.

Untuk kasus fashion, tingkat kompetisinya sudah gila-gilaan. Coba tanya kawan Anda yang tukang belanja fashion, apakah mereka loyal terhadap 1 atau 2 merek? 99,9% akan menjawab “Tidak”. Tiap ada diskon, matanya melirik..! Kecuali jika dikecilkan di ‘kategori’ tertentu, seperti tas tenteng, sepatu kain, yang belum ada merek kuat disana.

Studi Kasus
Coba amati foto-foto produk dibawah ini..!
Apa beda merek Aramara dengan Gadiza?
Apa beda produk keduanya dengan produk gamis di pasaran?
Apa cirikhas mereka?

gadiza         aramara



aramara 2

Gadiza, saya sering menyebutnya Hijab ‘Korea’, karena teringat dengan gaya pakaian khas Korea, yang garis lingkar perutnya agak keatas. Gadiza juga konsisten dengan jenis bahan yang serupa, warnanya kombinasi dolf dan ada bagian yang mengkilat. Tak menggunakan motif, lebih cenderung polos, kecuali seasonal saja. Itu penangkapan saya.

Sedangkan 1 cirikhas Aramara yang sangat kuat dan konsisten adalah nuansa kain Bali yang kotak-kotak. Ntah mau ditaruh dimanapun kotak-kotaknya, pecinta fashion akan ‘ngeh’, itu style Aramara.
Paham..?!
Intinya: untuk masuk di pasar yang berdarah-darah, janganlah serakah. Buat ciri khas dan konsisten. Tempelkan cirikhas tersebut di merek Anda, ke benak konsumen. Ingat Anu, ingat Merek Anda..!
“Jika Anda hebat dalam segalanya, maka sesungguhnya Anda lemah dalam segalanya..”
-----------------------------------------------------------------------------
Oh ya, sayang keduanya belum punya website yang bisa full online hingga 'check out payment'. Padahal hanya dengan 50 ribu perbulan, omzet 'full online' datang, merekpun lebih bonafit. ‪#‎nyindir

Jaya Setiabudi
Wrote by Rezki Anugraha


Kalau ditanya 3 hal terpenting dalam membangun bisnis, maka jawabannya adalah: Skill - Credibility - Network.

Jika hanya menyisakan 1 hal yang terpenting, maka kredibilitas adalah yang paling utama di dunia bisnis.
Lantas apa itu Kredibilitas?
Kredibilitas adalah nama baik, kredibilitas yang dibangun dimasa lalu. Kalau elemen pembangun kredibilitas yang tepat, saya setuju memilih kata amanah, karena sudah mencakup seluruhnya, bahkan lebih daripada itu. Jika Kredibilitas yang diketahui orang hanya tampak dari permukaan, amanah sejatinya adalah kredibilitas yang dibangun untuk ‘bumi’ dan ‘langit’.
Contoh pembeda, seseorang bisa saja melakukan sesuatu yang benar (dan baik) di depan orang lain untuk tetap menjaga reputasinya sebagai ‘orang baik’. Kalau yang disebut amanah, dia melakukan bukan karena sedang dilihat oleh orang lain, namun sedang dilihat Allah. Jika tak ada fitnah, maka semestinya seorang yang amanah akan memiliki kredibilitas dunia dan surga. Sangat berat menggunakan kata amanah yang menjadi salah satu dari sifat Nabi. Semoga kita dapat meneladaninya.

Amanah bukan sekadar jujur (luar dalam), tapi ‘andal’. Orang yang jujur, tapi gak bisa diandalkan, akan sering mengecewakan saat mengemban tugas. Contoh kongkritnya: pernahkah Anda memiliki seorang kawan atau karyawan yang jujur, namun pemalas, baik malas kerja atau malas belajar? Maukah Anda mempekerjakan atau menginvestasikan uang Anda ke dia? Mikir kan..?!
Masalahnya bukan sesederhana itu, kredibilitas seseorang dibangun dari ratusan bahkan ribuan ‘tugas’ yang diamanahkan kepadanya atau tidak secara langsung. Bisa jadi atasan Anda tak melihat Anda bekerja keras, namun orang lain yang melihat, akan mencatat kredibilitas Anda. Selain tugas, sikap ringan tangan dalam membantu, ringan kaki dalam bersilaturahim, kerja keras, loyal, rendah hati, pemurah, itu semua membentuk penilaian orang terhadap kita. Itulah kredibilitas.

Sebaliknya, sikap banyak alasan, menyalahkan, khianat, penjilat, kikir (harta ataupun ilmu), malas, sombong, itu juga kredibilitas, tapi yang buruk.
Seseorang yang jatuh bangkrut, tergencet hutang dagang (tak disengaja), namun bertanggung jawab dan tidak lari, itupun membangun kredibilitas.
Jadi dimanapun kita berkarya, apapun posisi kita, bagaimanapun kondisi kita, sesungguhnya kita sedang membangun rapor kredibilitas kita. Tak heran jika dikatakan, “Nasibmu adalah hasil kebiasaanmu”. Seolah di mata orang yang mengenal kita, ada suatu Cap di Jidat.
Kira-kira, apa cap kebanyakan orang terhadap diri Anda? Dijawab dalam hati saja, karena hal itu bukan untuk orang luar, tapi untuk diri Anda sendiri.
Cap ini juga yang akan digunakan saat perekrutan dan mencari partner. Tanya kanan, kiri, atas, bawah, luar, dalam. Tak kan lepas kita terhadap apa yang pernah kita perbuat. Maka dari itu berhati-hatilah dalam bertindak. Apalagi di jaman internet dan media sosial, transparasi informasi tak dapat dibendung, kecuali oleh para hacker.

“Your quality will be known among your enemies, before ever you meet them, my friend..” ~ Kingdom of Heaven and earth

Jika orang tak mempercayai kita dan itu sering terjadi, tanyakan pada diri sendiri, kemungkinan besar itulah buah dari yang kita tanam dahulu. Atau mungkin kita belum banyak menanam, mungkin juga belum berbuah.
“You reap what you sow”
“I have long feared that my sins would return to visit me, and the cost is more than I can bear.”, Benjamin Martin, The Patriot.
Semoga Allah menutup segala aib kita dan membuka pintu hidayah kita, serta memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki amalan-amalan kita. Aamiin..

Jaya Setiabudi
Wrote by Rezki Anugraha
Sumber :  Diambil dari Google


TEAM, BUAT APA SIH?? AKU BISA SENDIRI KOK..!

Yakin bisa..?
Setiap kali mengadakan pelatihan entrepreneurship atau seminar motivasi wirausaha, banyak orang berharap dapat mengubah kepribadiannya.
 Mayoritas dari mereka ingin berubah dari 'pendiam' ke jago 'jingkrak-jingkrak' seperti si pembicara. Mereka berpikir orang sukses identik dengan orang yang 'pinter ngomong'.
Ada juga yang masih kebingungan dalam membuka usaha, karena tidak punya modal.
Sedangkan yang punya modal dan 'pinter ngomong', mengeluhkan dirinya tidak bakat dalam usaha karena tidak bisa mengatur orang.
Lalu, apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha?
Apakah pengusaha harus seperti Superman yang 'serba bisa'? 
Bagaimana dengan orang 'bisu', bisakah dia buka usaha?
Dan jika tidak mempunyai uang, apakah bisa buka usaha?
Sebenarnya, tidak harus 'serba bisa' dan 'serba punya' untuk menjadi pengusaha.

Rahasia jadi pengusaha itu adalah 'PUNYA KEMAUAN KERAS'. Tentu saja dengan 'action' yang kuat.

Lebih mudah untuk menggali potensi diri, daripada mengubah diri. Kita bisa menutupi kekurangan dengan kelebihan orang lain dalam TEAM kita.
Jika kita tidak pandai bicara, maka carilah partner yang pandai bicara. Jika kita tidak pandai mengatur orang, maka carilah partner yang bisa mengatur. Dan bila kita tidak punya modal, maka carilah partner yang bisa membantu dalam hal permodalan.

"Tak ada manusia yang sempurna, namun TEAM membuatnya sempurna"
Pengusaha tidak harus pintar, tapi harus pintar cari 'orang pintar'. Sedikit yang bisa kita lakukan sendiri, namun banyak hal yang bisa kita lakukan jika bersama.
Tidak ada orang yang tidak memiliki bakat bisnis, yang ada hanyalah orang yang tidak mau bekerjasama. Semakin banyak partner, maka semakin banyak lubang kekurangan kita yang tertutupi. Asyiknya juga, beban kerja jadi lebih ringan, yang mendo'akan pun banyak (setiap partner dan keluarganya).

Mungkin kita punya pengalaman ditipu oleh partner, sebenarnya itu hal yang biasa dalam bisnis. Seperti mencari pasangan hidup, pasti memakan waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi, sekalinya menemukan yang 'cocok', maka terbukalah pintu rejeki kita. Kuncinya adalah menghargai perbedaan sebagai kekuatan.

Berikut 5 macam partner :
semut
  1. Technical Partner, orang yang menguasai secara teknis bidang usaha yang digeluti.
  2. Network Partner, orang yang memiliki jaringan pemasaran atau kemampuan untuk memasarkan.
  3. Financial Partner, orang yang memiliki kemampuan dalam pembiayaan.
  4. Management Partner, orang yang memiliki skill di bidang manajemen.
  5. Leadership Partner, orang yang dapat memimpin dan menyatukan potongan-potongan di atas.

"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Daripada memoles kekurangan kita, lebih baik mencari orang untuk menutupi kelemahan yang kita miliki. Itulah TEAM."

 Jadi, partner apa yang Anda butuhkan?

Jaya Setiabudi
Wrote by Rezki Anugraha
Newer Posts Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Cap Jidat yang akan Menyelamatkanmu
    Kalau ditanya 3 hal terpenting dalam membangun bisnis, maka jawabannya adalah:  Skill - Credibility - Network . Jika hanya menyisakan...
  • Brand atau "Tukang Buat"
    Source : Google Lebih baik mana: Buatan Indonesia, Merek milik asing. Buatan Luar, Merek milik Indonesia. Jika Anda menjawab '...
  • Buat Calon Pengusaha dan Pengusaha Pemula
    Sumber : diambil dari google Di awal tahun 2005, saat ikutan kelas mentoring  Entrepreneur University  (EU), sang mentor berkata, “Sete...
  • Targetmu Tercapaikah ??
    D ear Fighter, Semua orang ingin sukses, tapi tak semua orang layak sukses. Jalan sukses itu berliku, terjal, naik, berbelok-belok,m...
  • Yang Disebut Toko Online itu Jika...
    Sumber : Diambil dari Google Yang disebut TOKO ONLINE itu jika.. Bisa order online , bukan via chat, sms, telepon atau menda...
  • Kata Kunci atau Key Word
    Source : Google Penggunaan Kata Kunci atau Key Word sebenarnya tidak hanya berlaku di dunia SEO ( Search Engine Optimization ) saja....
  • Malas Partner-an ah...!
    Sumber :  Diambil dari Google TEAM, BUAT APA SIH?? AKU BISA SENDIRI KOK..! Yakin bisa..? Setiap kali mengadakan pelatihan entrep...
  • Seberapa Panjang Usia Panenmu?
    Alkisah 3 orang pengusaha dalam suatu perjalanan reuni. Saat mereka rehat di sebuah warung kosong di tengah kebun liar, mereka berbinca...
  • Produkmu Punya Ciri Khas ga??
    Sumber : diambil dari Google Coba jawab dengan jujur, jika orang melihat produk Anda sekilas, gak pakai mikir, apa komentar mereka?   A...
  • Bicara Dengan Data
    Source img : by google Biasakan bicara dengan data "Victory loves preparation", suatu quote yang saya suka dari film 'The ...

Categories

  • Brand
  • Data
  • Kata Kunci
  • Key Word
  • Marketing
  • Motivation
  • Partner
  • Tips dan trik
  • Toko Online

Advertisement

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  February (1)
      • Bicara Dengan Data
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (7)
Powered by Blogger.

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Instagram

Copyright © 2016 Kumpulan Tips Bisnis Mas J. Designed by Ecky Calm