• Home
  • About
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Daftar Isi
  • Contact Us

Kumpulan Tips Bisnis Mas J

Source img : by google
Biasakan bicara dengan data


"Victory loves preparation", suatu quote yang saya suka dari film 'The Mechanic'. Sudah gak jamannya asal jalan saja. Kalau berhasil pun namanya 'kecelakaan', susah menduplikasi dan mengulanginya.

Beda kalau kita paham kenapa kita berhasil. Meski ada unsur 'takdir', tapi lebih banyak 'sunatullah' yang menjadi sebab dari suatu akibat.

Jangan sampai Anda berbisnis masih pakai 'feeling' saja. Sudah begitu feeling-nya lagi gak 'well' atau belum di update ke versi baru.

Wrote by Rezki Anugraha
Sumber : Diambil dari Google


Internet Marketer, Abis Itu Ngapain..?


Semua profesi, asalkan halal adalah bagus. Hanya saja, ada profesi yang disebut Profesi Transisi.
Salah satu profesi 'underground' yang banyak mewabah di Indonesia adalah Internet Marketer (IM). Jangan anggap remeh IM Indonesia. Penghasilan mereka sudah banyak yang mencapai ratusan juta, bahkan miliaran perbulan. Namun karena pergerakan mereka di luar negeri, maka nyaris tak tercium 'bau duitnya' di Indonesia. Terlebih lagi, mereka adalah pemasar 'affiliate' dan dropship, yang sebagian besar tak menggunakan nama pribadi untuk memasarkan.

Beberapa IM yang saya temui, masih berusia 19 hingga 30 tahun, penghasilannya mengalahkan direktur perusahaan multinasional atau BUMN. Penampilan tetap sederhana, mobil biasa saja, bahkan masih ada yang naik taksi dan motor. Mereka sudah di jalan yang benar, hanya kebingungan, selanjutnya apa?

Saran saya, analisa dulu potensi dirimu, kelebihan dan kekuranganmu. Dari situlah kamu bisa memaksimalkannya. Berikut adalah alternatif langkah selanjutnya untukmu, IMers Indonesia.
Dari 'S' ke 'I' atau ke 'B' ?

Masih ingat 4 kuadran Kiyosaki? IM adalah profesi Self Employee (S), penghasilannya tergolong Active Income, kerja dapat duit, gak kerja gak dapat duit. Untuk mengubah penghasilan seorang IM menjadi Passive Income, alias gak kerja tetap dapat duit, maka dia harus lompat ke Business-owner (B) atau Investor (I). Otomatisasi hanya bersifat sementara, jika tak di-leverage dengan organisasi dan sistem.




Kebanyakan IM, dari 'S' lompat ke 'S' lagi, seperti trainer, optimizer, atau tetap di dunia affiliate. Gak jadi masalah, tinggal mainkan saja di investasi, seperti:
+ Beli properti, sewakan.
+ Beli franchise yang auto pilot.
+ Patungan jadi angel investor.

Yang penting jangan jadi rentenir, hehe..
Seperti kawan dan mentor saya, Rully 'The Legend' Kustandar, dia lebih memilih tetap di 'S' dan berinvestasi di beberapa bidang, emas adalah primadonanya. Karena dia menyadari 'sepaket' kelebihan dan kekurangan dirinya, maka dia dapat memaksimalkan potensinya. Jangan berusaha menjadi orang lain, fokuslah pada kekuatanmu, itulah kuncinya.

Jalan lain lompat ke kuadran 'kanan' (passive income) adalah dengan membangun bisnismu. Seorang IM, sejatinya sudah berada di jalan yang benar. Mahir memasarkan adalah kunci utama dalam berbisnis. Apalagi jika database konsumen dan perilakunya sudah ditangan, tinggal analisa, bangun dan besarkan brand sendiri.

Misalnya saat ini profesimu adalah dropshipper atau affiliate suatu produk dan suatu saat ingin menjadi pengusaha, saran saya fokuslah ke satu target pasar.

Puaskanlah pelangganmu, bukan jualan Hit and Run. Kredibilitas adalah kunci membangun bisnis yang langgeng.

Setelah terbaca kontinuitas pembelian suatu produk, cobalah untuk berjualan dengan Merekmu sendiri. Tak perlu produksi sendiri, bahkan sebaiknya outsource ke produsen saja. Produk bisa jadi yang serupa atau pelengkap. Orang yang maniak koleksi sepatu, biasanya juga kolektor tas, itu namanya pelengkap.

Tetaplah berjualan merek orang lain sebagai penghasilan utama (sapi perah), sembari membangun merek bisnismu (bintang). Hingga suatu saat 'siap dipanen', maka fokuslah membesarkan merekmu saja.

Jika jualanmu bermacam-macam produk untuk target pasar yang sama, maka bangunlah nama tokomu (brand[dot]com). Seperti kawan saya,Arief Theofilus Setyadi, seorang veteran Internet Marketer yang berevolusi menjadi brand owner Jocelyns.co.id.


Wrote by Rezki Anugraha


Kalau ditanya 3 hal terpenting dalam membangun bisnis, maka jawabannya adalah: Skill - Credibility - Network.

Jika hanya menyisakan 1 hal yang terpenting, maka kredibilitas adalah yang paling utama di dunia bisnis.
Lantas apa itu Kredibilitas?
Kredibilitas adalah nama baik, kredibilitas yang dibangun dimasa lalu. Kalau elemen pembangun kredibilitas yang tepat, saya setuju memilih kata amanah, karena sudah mencakup seluruhnya, bahkan lebih daripada itu. Jika Kredibilitas yang diketahui orang hanya tampak dari permukaan, amanah sejatinya adalah kredibilitas yang dibangun untuk ‘bumi’ dan ‘langit’.
Contoh pembeda, seseorang bisa saja melakukan sesuatu yang benar (dan baik) di depan orang lain untuk tetap menjaga reputasinya sebagai ‘orang baik’. Kalau yang disebut amanah, dia melakukan bukan karena sedang dilihat oleh orang lain, namun sedang dilihat Allah. Jika tak ada fitnah, maka semestinya seorang yang amanah akan memiliki kredibilitas dunia dan surga. Sangat berat menggunakan kata amanah yang menjadi salah satu dari sifat Nabi. Semoga kita dapat meneladaninya.

Amanah bukan sekadar jujur (luar dalam), tapi ‘andal’. Orang yang jujur, tapi gak bisa diandalkan, akan sering mengecewakan saat mengemban tugas. Contoh kongkritnya: pernahkah Anda memiliki seorang kawan atau karyawan yang jujur, namun pemalas, baik malas kerja atau malas belajar? Maukah Anda mempekerjakan atau menginvestasikan uang Anda ke dia? Mikir kan..?!
Masalahnya bukan sesederhana itu, kredibilitas seseorang dibangun dari ratusan bahkan ribuan ‘tugas’ yang diamanahkan kepadanya atau tidak secara langsung. Bisa jadi atasan Anda tak melihat Anda bekerja keras, namun orang lain yang melihat, akan mencatat kredibilitas Anda. Selain tugas, sikap ringan tangan dalam membantu, ringan kaki dalam bersilaturahim, kerja keras, loyal, rendah hati, pemurah, itu semua membentuk penilaian orang terhadap kita. Itulah kredibilitas.

Sebaliknya, sikap banyak alasan, menyalahkan, khianat, penjilat, kikir (harta ataupun ilmu), malas, sombong, itu juga kredibilitas, tapi yang buruk.
Seseorang yang jatuh bangkrut, tergencet hutang dagang (tak disengaja), namun bertanggung jawab dan tidak lari, itupun membangun kredibilitas.
Jadi dimanapun kita berkarya, apapun posisi kita, bagaimanapun kondisi kita, sesungguhnya kita sedang membangun rapor kredibilitas kita. Tak heran jika dikatakan, “Nasibmu adalah hasil kebiasaanmu”. Seolah di mata orang yang mengenal kita, ada suatu Cap di Jidat.
Kira-kira, apa cap kebanyakan orang terhadap diri Anda? Dijawab dalam hati saja, karena hal itu bukan untuk orang luar, tapi untuk diri Anda sendiri.
Cap ini juga yang akan digunakan saat perekrutan dan mencari partner. Tanya kanan, kiri, atas, bawah, luar, dalam. Tak kan lepas kita terhadap apa yang pernah kita perbuat. Maka dari itu berhati-hatilah dalam bertindak. Apalagi di jaman internet dan media sosial, transparasi informasi tak dapat dibendung, kecuali oleh para hacker.

“Your quality will be known among your enemies, before ever you meet them, my friend..” ~ Kingdom of Heaven and earth

Jika orang tak mempercayai kita dan itu sering terjadi, tanyakan pada diri sendiri, kemungkinan besar itulah buah dari yang kita tanam dahulu. Atau mungkin kita belum banyak menanam, mungkin juga belum berbuah.
“You reap what you sow”
“I have long feared that my sins would return to visit me, and the cost is more than I can bear.”, Benjamin Martin, The Patriot.
Semoga Allah menutup segala aib kita dan membuka pintu hidayah kita, serta memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki amalan-amalan kita. Aamiin..

Jaya Setiabudi
Wrote by Rezki Anugraha
Sumber :  Diambil dari Google


TEAM, BUAT APA SIH?? AKU BISA SENDIRI KOK..!

Yakin bisa..?
Setiap kali mengadakan pelatihan entrepreneurship atau seminar motivasi wirausaha, banyak orang berharap dapat mengubah kepribadiannya.
 Mayoritas dari mereka ingin berubah dari 'pendiam' ke jago 'jingkrak-jingkrak' seperti si pembicara. Mereka berpikir orang sukses identik dengan orang yang 'pinter ngomong'.
Ada juga yang masih kebingungan dalam membuka usaha, karena tidak punya modal.
Sedangkan yang punya modal dan 'pinter ngomong', mengeluhkan dirinya tidak bakat dalam usaha karena tidak bisa mengatur orang.
Lalu, apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha?
Apakah pengusaha harus seperti Superman yang 'serba bisa'? 
Bagaimana dengan orang 'bisu', bisakah dia buka usaha?
Dan jika tidak mempunyai uang, apakah bisa buka usaha?
Sebenarnya, tidak harus 'serba bisa' dan 'serba punya' untuk menjadi pengusaha.

Rahasia jadi pengusaha itu adalah 'PUNYA KEMAUAN KERAS'. Tentu saja dengan 'action' yang kuat.

Lebih mudah untuk menggali potensi diri, daripada mengubah diri. Kita bisa menutupi kekurangan dengan kelebihan orang lain dalam TEAM kita.
Jika kita tidak pandai bicara, maka carilah partner yang pandai bicara. Jika kita tidak pandai mengatur orang, maka carilah partner yang bisa mengatur. Dan bila kita tidak punya modal, maka carilah partner yang bisa membantu dalam hal permodalan.

"Tak ada manusia yang sempurna, namun TEAM membuatnya sempurna"
Pengusaha tidak harus pintar, tapi harus pintar cari 'orang pintar'. Sedikit yang bisa kita lakukan sendiri, namun banyak hal yang bisa kita lakukan jika bersama.
Tidak ada orang yang tidak memiliki bakat bisnis, yang ada hanyalah orang yang tidak mau bekerjasama. Semakin banyak partner, maka semakin banyak lubang kekurangan kita yang tertutupi. Asyiknya juga, beban kerja jadi lebih ringan, yang mendo'akan pun banyak (setiap partner dan keluarganya).

Mungkin kita punya pengalaman ditipu oleh partner, sebenarnya itu hal yang biasa dalam bisnis. Seperti mencari pasangan hidup, pasti memakan waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi, sekalinya menemukan yang 'cocok', maka terbukalah pintu rejeki kita. Kuncinya adalah menghargai perbedaan sebagai kekuatan.

Berikut 5 macam partner :
semut
  1. Technical Partner, orang yang menguasai secara teknis bidang usaha yang digeluti.
  2. Network Partner, orang yang memiliki jaringan pemasaran atau kemampuan untuk memasarkan.
  3. Financial Partner, orang yang memiliki kemampuan dalam pembiayaan.
  4. Management Partner, orang yang memiliki skill di bidang manajemen.
  5. Leadership Partner, orang yang dapat memimpin dan menyatukan potongan-potongan di atas.

"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Daripada memoles kekurangan kita, lebih baik mencari orang untuk menutupi kelemahan yang kita miliki. Itulah TEAM."

 Jadi, partner apa yang Anda butuhkan?

Jaya Setiabudi
Wrote by Rezki Anugraha

Alkisah 3 orang pengusaha dalam suatu perjalanan reuni. Saat mereka rehat di sebuah warung kosong di tengah kebun liar, mereka berbincang. Dasar pengusaha, otaknya tak pernah berhenti melihat dan menghitung peluang.
Agung: Bro, kalo seandainya tanah kosong yang luas sekali sepanjang perjalanan kita ini dijual murah, loe mau jadiin apa?
Uge: Kalo gue, kaplingin trus jual lagi, kayak kacang goreng. Laris manis…!
Agung: Yee, sayang donk, kalo cuma dikapling trus dijual. Kalo gue sih, bakal gue kembangin jadi perumahan. Panggil arsitek, buat konsep dan hitungan, kerjasama dengan kontraktor, baru pasarkan. Pasti untungnya lebih gedhe.
Uge: Jiaahh, emang bener untung gedhe, tapi kapaaan men? Lagian urusannya panjang, resikonya gedhe juga. Coba tanya Si Awit, apa pendapat dia?
Awit: Gue? Jadiin jalan TOL. Coba hitung brapa jam perjalanan kita? Muter-muter, jelek jalannya, macet lagi. Kalo ada jalan tol, pedagang akan banyak terbantu. Karena transportasi jadi lebih cepat dan murah, harga barang juga bisa lebih murah atau keuntungan lebih tinggi.
Uge: Buseet, gemblung loe Wit. Ribet amat mikirnya. Emang loe pikir bebasin lahan yang lainnya gampang? Perijinan pastinya lebih ribet dari kapling atau perumahan.
Awit: Bener itu, makanya gak banyak yang bangun jalan Tol. Tapi sekali jadi, duitnya ngalir paling gak 3 generasi dan manfaatnya dinikmati oleh banyak orang.

Tak ada yang benar atau salah dalam bisnis, hanya beda jangkauan pemikiran saja. Ada orang yang berfikir seperti petani Tauge, panennya cepet, 3 hari aja. Konsekuensinya harga murah, karena banyak orang yang bisa menanamnya. Ada pula yang berfikir ‘setengah’ panjang, seperti petani Jagung, usia panen di 2 bulanan, masa panen hingga 3 bulanan. Setelah itu harus menanam ulang. Tentu beda dengan petani Sawit, perlu waktu 3 – 4 tahun untuk mulai panen. Namun setelah itu, penghasilan 25 tahun kedepan sudah terjamin. Pilih mana? Ya siapa sih yang gak ingin memanen hasil selama itu? Masalahnya adalah kuatkah kita dalam prosesnya?

WhatsApp yang didirikan Tahun 2009, Tak membuat keuntungan dan terus nombok dalam prosesnya. Pada Februari 2014, dibeli oleh Facebook dengan nilai US$ 19 miliar atau sekitar Rp 260 triliun. Lebih dari cukup untuk membeli 100% saham Freeport senilai US$ 17 miliar, itupun valuasi tak wajar versi mereka. Berapa karyawan WhatsApp? 50 orang saja, minimalis. Alibaba didirikan oleh seorang guru Bahasa Inggris (1999), yang tak bisa coding. Alibaba tak membuat sesen pun pemasukan di 3 tahun pertama. Valuasi Alibaba (september 2014) mencapai US$ 230 miliar. Cukup untuk membeli 10 Freeport atau melunasi seluruh hutang Indonesia (sekitar Rp 2600 triliun).

Perusahaan dotcom lokal juga ada Tokopedia, yang tahun lalu 51% sahamnya dibeli seharga US$ 100 juta, atau setara Rp 1,4 triliun. Yang artinya valuasi Tokopedia saat itu adalah Rp 2,8 triliun dan masih merugi hingga saat ini. Lepas dari cara permainan ala kapitalis mereka, setidaknya memberikan gambaran tentang seberapa visioner kita dalam membangun suatu bisnis? Pengusaha Tauge, Jagung atau Sawit?

“Ge, tauge, jangan nyinyir sama sawit. Gak nyampe mikirnya…”  #plakk

Jaya Setiabudi
Founder YEA dan Yukbisnis.com
Wrote by Rezki Anugraha
Sumber : diambil dari google
Di awal tahun 2005, saat ikutan kelas mentoring Entrepreneur University (EU), sang mentor berkata, “Setelah ikut EU, dalam setahun saya membuka 10 macam usaha”. Kemudian saya berbisik kepada kawan di samping, “Tahi kucing orang ini, buka usaha 10 macam dalam setahun, kecuali akan tumbang 1 per 1”. Sebagai informasi, tahun itu (2005) adalah tahun ke 7 saya berbisnis.

Ada 3 kemungkinan seorang pengusaha mampu membuka/menjalankan usaha banyak sekaligus dan berhasil (besar) semuanya:
1. Leadership-nya tinggi, hingga mampu membentuk dan memimpin tim dengan cepat.
2. Memiliki seorang leader yang kuat di masing-masing bisnisnya. Dalam hal ini dia seolah ‘semi investor’, bukan pengelola bisnis secara langsung.
3. Memiliki modal yang kuat untuk ‘membayar’ tim yang hebat.
Sebaiknya dibaca ulang perlahan.

Dan saya tak melihat ketiga hal dari mentor tersebut. Terbukti hingga sekarang, mentor tersebut tak memiliki bisnis yang boom dan benar, 1 per 1 berguguran. Tersisa 1 usaha, yang difokusi oleh sang istri sebagai pengelolanya.


Pengelola vs Investor

Jika Anda adalah seorang investor, janganlah invest ke suatu usaha, yang pengelolanya gak fokus. Namun sebagai investor, harus tak fokus atau jangan fokus inves ke 1 lubang. Maka dari itu, carilah suatu usaha yang sudah teruji dengan waktu bahwa pengelolanya punya konsistensi.


Fokus adalah harga mati

Biasanya kalau ada yang curhat bisnis dan ketahuan bisnisnya banyak, saya akan mengatakan, “Kudoakan engkau bangkrut secepat mungkin, biar setelah itu bisa fokus ke 1 bisnis aja”. Paling malas kalau ketemu orang yang mau mentoring bisnis dan dia gak fokus. Aturan yang saya dan YEA berikan untuk pengusaha pemula adalah fokus 1 bisnis selama 5 tahun. Pasti ada aliran ‘kanan luar’ yang tak setuju dengan ajaran kami. Ya itu silakan, tak perlu didebat, tapi dibuktikan saja.

Kecuali Anda masih dalam fase pencarian usaha, silakan coba-coba, itupun tetap disarankan 1 per 1, tak sekaligus dijalankan bersama. Anggap aja masih latihan, belum serius bisnis.
koleksi >> seleksi >> resepsi
Kalau sudah dapat 1, ya dikawini, ehh nikahi dahulu, baru beranak pinak.
“Tapi Mas J, meski baru 3 bulan bisnisku berjalan, udah bisa auto pilot koq.” << t.a.h.i — k.u.c.i.n.g

Membangun bisnis seperti ngemong anak. Apalagi anak pertama, perlu belajar dan mendalami seluk beluknya. Jika sudah mahir merekrut dan membina tim, silakan buka sana sini, tapi bukan untuk Pengusaha pemula, apalagi yang modalnya cekak. Coba bayangkan, saat pertama mulai usaha dengan duit pas-pasan, kadang juga pinjam orang, bagaimana repotnya Anda ngurusi 1 bisnis? Anda belum mampu dan tahu cara merekrut tim. Anda masih melakukan semua sendiri; belanja sendiri, packing sendiri, memasarkan sendiri.

Kemudian Anda membuka usaha kedua yang total berbeda. Mana yang akan jadi prioritas Anda? Tentu saja ‘istri kedua’ kan?! Lha, sama yang 1 aja belum mapan cintanya, udah ‘polibisnis’, apa gak kurang ajar tuh? Alhasil, bisnis pertama yang tadinya dijalankan dengan sepenuh hati, mulai setengah-setengah, bahkan seperempat hati. Pikiran pun bercabang dan tak menghasilkan lompatan-lompatan besar. Mungkinkah bisa jalan? Bisa, tapi gak bertumbuh besar. Seperti tanaman yang ditinggalkan setengah jadi, maka buahnya tak akan selebat yang disirami tiap hari.

“Abisnya, aku udah banyak waktu luang Mas J, gak ada kerjaan.” << Pikirkan bagaimana bisnismu bisa beromzet miliaran perbulan..!

Tapi Mas J, para konglomerat, banyak tuh bisnisnya dan besar besar? Kan sudah saya sebutkan sejak awal:
1. Mereka punya duit untuk merekrut profesional.
2. Leadership, keilmuan dan intuisi sudah terasah.
3. Atau sebagai investor, bukan pengelola langsung.

Kapan saatnya ekspansi ke bisnis lain?



Jika sudah ada yang mampu menumbuhkan perusahaan, bukan sekadar menjalankan. Kecuali bisnis Anda sudah terkategori anjing piaraan (sunset) atau hanya sapi perah sementara, silakan buka lainnya. Jika Anda yakin bisnis Anda adalah bintang, fokus adalah keharusan. 1 bisnis aja, cukup membuatmu berkelimpahan. Setelah duit berlimpah, baru investasi dan bantu UKM (yang fokus) lainnya untuk bertumbuh. Dapat amal, duit in syaa Allah juga didapat.

Jadi…
Jika sekarang Anda berpolibisnis, segeralah insaf dan suntik mati, sisakan 1 yang paling potensial. Kalo gak suntik mati, ya dijual buat tambahan amunisi atau bayar hutang.

“Waktu bisa dibagi, hati tak mudah berbagi. Fokus 1 dan besarkan”

Jaya Setiabudi

Wrote by Rezki Anugraha
Home

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Cap Jidat yang akan Menyelamatkanmu
    Kalau ditanya 3 hal terpenting dalam membangun bisnis, maka jawabannya adalah:  Skill - Credibility - Network . Jika hanya menyisakan...
  • Buat Calon Pengusaha dan Pengusaha Pemula
    Sumber : diambil dari google Di awal tahun 2005, saat ikutan kelas mentoring  Entrepreneur University  (EU), sang mentor berkata, “Sete...
  • Targetmu Tercapaikah ??
    D ear Fighter, Semua orang ingin sukses, tapi tak semua orang layak sukses. Jalan sukses itu berliku, terjal, naik, berbelok-belok,m...
  • Brand atau "Tukang Buat"
    Source : Google Lebih baik mana: Buatan Indonesia, Merek milik asing. Buatan Luar, Merek milik Indonesia. Jika Anda menjawab '...
  • Yang Disebut Toko Online itu Jika...
    Sumber : Diambil dari Google Yang disebut TOKO ONLINE itu jika.. Bisa order online , bukan via chat, sms, telepon atau menda...
  • Malas Partner-an ah...!
    Sumber :  Diambil dari Google TEAM, BUAT APA SIH?? AKU BISA SENDIRI KOK..! Yakin bisa..? Setiap kali mengadakan pelatihan entrep...
  • Seberapa Panjang Usia Panenmu?
    Alkisah 3 orang pengusaha dalam suatu perjalanan reuni. Saat mereka rehat di sebuah warung kosong di tengah kebun liar, mereka berbinca...
  • Produkmu Punya Ciri Khas ga??
    Sumber : diambil dari Google Coba jawab dengan jujur, jika orang melihat produk Anda sekilas, gak pakai mikir, apa komentar mereka?   A...
  • Kata Kunci atau Key Word
    Source : Google Penggunaan Kata Kunci atau Key Word sebenarnya tidak hanya berlaku di dunia SEO ( Search Engine Optimization ) saja....
  • Bicara Dengan Data
    Source img : by google Biasakan bicara dengan data "Victory loves preparation", suatu quote yang saya suka dari film 'The ...

Categories

  • Brand
  • Data
  • Kata Kunci
  • Key Word
  • Marketing
  • Motivation
  • Partner
  • Tips dan trik
  • Toko Online

Advertisement

Blog Archive

  • ▼  2017 (2)
    • ▼  February (1)
      • Bicara Dengan Data
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (12)
    • ►  December (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (7)
Powered by Blogger.

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Instagram

Copyright © 2016 Kumpulan Tips Bisnis Mas J. Designed by Ecky Calm